MAKALAH
AKHLAK TASAWUF
Diajukan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Ilmu Tasawuf
Dosen:
Eni Sustini, M.Pd.
![]() |
Disusun oleh:
ihsanudin
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI -
PUI)
MAJALENGKA
TAHUN PELAJARAN 2015 / 2016
DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI ..................................................................................................................... i
KATA
PENGANTAR ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang ..............................................................................................................
B. Rumusan
Masalah ......................................................................................................... 1
C. Tujuan
penulisan ........................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
akhlak. Dan Tasawuf .................................................................................. 2
1.
Pengertian Akhlak .................................................................................................. 2
2.
Pengertian Tasawuf ................................................................................................ 3
B. Hubungan
Akhlak dan Tasawuf ................................................................................... 3
C. Ruang
Lingkup Akhlak dan Tasawuf .......................................................................... 4
1.
Ruang Lingkup Akhlak .......................................................................................... 4
2.
Ruang Lingkup Tasawuf ........................................................................................ 5
D. Tujuan
Mempelajari Akhlak dan Tasawuf .................................................................... 6
1.
Tujuan Mempelajari Akhlak ................................................................................... 6
2.
Tujuan Mempelajari Tasawuf ................................................................................. 6
E. Manfaat
Mempelajari Akhlak dan Tasawuf ................................................................. 7
1. Manfaat
Mempelajari Akhlak ................................................................................. 7
2. Manfaat
Mempelajari Tasawuf ............................................................................... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
............................................................................................................. 8
B. Saran
....................................................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarokatuh
Alhamdulillahirobil lamin, segala puji syukur kami haturkan kehadirat Allah
SWT, atas rahmat dan karunianya kami dapat diberi kemampuan untuk menyelesaikan
makalah Akhlak Tasawuf ini.
Kami menyampaikan ucapan keselamatan kepada Rasulullah SAW, para keluarga dan
sahabatnya yang garis keteladanan yang tidak habis-habisnya kami kupas.
Makalah ini kami selesaikan untuk memenuhi tugas Akhlak tasawuf kara banyaknya
kaum muslim dan muslimin pada saat ini belum mengerti arti Aklah yang telah
diajarkan oleh agama islam selama ini, kami berharap dengan adanya makalah ini
para pembaca dapat mempelajari dan sebagai himbauan wawasan arti dari akhlak
tasawuf dan kandungan-kandungan yang telah dijelaskan dalam makalah
ini.
Kami sebagai mahasiswa
tentunya banyak kekurangan dan kekeliruan dalam mengerjakan makalah ini , kami
berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran kepada kami yang
membutuhkan, akhir kata kami ucapkan terima kasih.
Wassalamual;aikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bantarujeg, Oktober 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Secara historis akhlak tasawwuf adalah pemandu
perjalanan hidup umat manusia agar selamat dunia dan akhirat, itu di
karenakan Akhlak Tasawuf merupakan salah satu
khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin
dirasakan. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad saw. adalah
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor
pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya
yang prima.
Melihat betapa pentingnya akhlak
tasawuf dalam kehidupan ini tidaklah menghe-rankan jika akhlak tasawuf
ditentukan sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh kita semua. Sebagai
upaya untuk menanggulangi kemerosotan moral yang tengah dialami bangsa ini.
Untuk mengungkap segala permasalahan
yang terkait dengan Akhlak Tasawuf, kami akan mencoba menguraikannya dalam
makalah singkat yang berjudul “Pengertian dan manfaat Mempelajari
Akhlak Tasawuf”.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian akhlak
dan tasawwuf itu ?
2. Apa saja hubungan
akhlak dan tasawwuf ?
3. Apa saja ruang lingkup
akhlak dan tasawwuf ?
4. Apa tujuan mempelajari
akhlak dan tasawwuf ?
5. Apa manfaat
mempelajari akhlak dan tasawwuf ?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk memahami
pengertian akhlak dan taswwuf.
2. Untuk mengetahui hubungan
akhlak dan tasawwuf.
3. Untuk mengetahui ruang
lingkup akhlak dan tasawwuf.
4. Untuk mengetahui
tujuan mempelajari akhlak dan tasawwuf.
5. Untuk mengetahui
mamfaat mempelajari akhlak dan tasawwuf.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Akhlak dan
Tasawwuf
1. Pengertian Akhlak
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan
sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata
akhlak meskipun diambil dari bahasa Arab
(yang biasa berartikan tabiat, perangai
kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak
ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal
kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum
dalam Al-Quran.
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
“dan
Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS Al-Qalam
68: 4)
Ayat
tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw.
sebagai Rasul.
Sedangkan menurut
istilah, para pakar dalam bidang ini mengemukakan definisi akhlak sebagai
berikut;
a. Ibnu Miskawaih
حَالٌ لِلنَّفْسِ
دَاعِيَةٌ لَهَا اِلٰى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلَا رُوِيَةٍ
“Sifat
yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
b. Imam Al-Gazali
عِبَارَةٌعَنْ هَيْئَةٍ
فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٌ عَنْهَا تَصْدُرُ الْافْعَالُ بِسُهُوْلةٍ وَيُسْرِ مِنْ
غَيْرِحَاجَةٍ اِلٰى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ
“Sifat
yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang
dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
c. Ibrahim Anis
حَالٌ لِلنَّفْسِ
رَاسِخَةٌ تَصْدُرُ عَنْهَا الْاَفْعَالُ مِنْ خَيْرٍ اَوْ شَرٍّ مِنْ غَيْرِ
حَاجَةٍ اِلٰى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ
“Sifat
yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik
atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.(Abuddin Nata,
2010:02)
d. Prof. Dr. Ahmad Amin
عَرَّ فَ بَعْضُهُمُ
الْخُلُقَ بِأَنَّهُ عَادَةُ الْاِرَادَةِ يَعْنِى أَنَّ الْإرَادَةَ اِذَا
اعْتَادَتْ شَيْأً فَعَادَتُهَا هِيَ الْمُسَمَّاةُ بِالْخُلُقِ
Sementara orang membuat definisi akhlak, bahwa
yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu
bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.( Drs. H. A. Mustofa,
1995:13)
Dari beberapa difinisi
diatas, kami dapat meyimpulkan tentang difinisi akhlak seperti perkataan Prof.
KH. Farid Ma’ruf yang menyimpulkan tentang definisi akhlak ini sebagai
berikut: “Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah
karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu”.
2. Pengertian Tasawwuf
Secara
bahasa, tasawuf berarti saf (baris), sufi (suci), sophos (Yunani:
hikmah), suf (kain wol), sikap mental yang selalu memelihara kesucian
diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan bersikap
bijaksana.
Sedangkan menurut istilah, para ahli
tasawuf mengartikan sebagai berikut :
a. Zakaria Al-Anshori
: “Tasawuf ialah suatu ilmu yang menjelaskan hal ihwal Pembersih jiwa
dan penyantun akhlak baik lahir atau batin, guna menjauhi bid’ah dan tidak
meringankan ibadah”.
b. Abul Qasim al-Qashairi
( W. 456H/1072M ) : “Tashawwuf adalah menerapkan ajaran Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi secara tepat, berusaha menekan hawa nafsu, menjauhi bid’ah dan
tidak meringankan ibadah”.
c. Harun Nasution : “tasawuf
itu merupakan suatu ilmu pengetahuan dan sebagai ilmu pengetahuan, tashawwuf
atau sufisme mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang islam bisa sedekat
mungkin dengan tuhan”.
“Tasawuf pada intinya adalah upaya melatih
jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh
kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah
swt. Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan
dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi
atau hakikat tasawuf”.(Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, 2006:181)
Jadi dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah
suatu kehidupan rohani yang merupakan fitrah manusia dengan tujuan untuk
mencapai hakikat yang tinggi, berada dekat atau sedekat mungkin dengan Allah
dengan jalan menyucikan jiwanya, dengan melepaskan jiwanya dari noda-noda sifat
dan perbuatan tercela.
(http.//www.aminazizcenter.com)
B.
Hubungan Akhlak dan
Tasawwuf
Hubungan antara akhlak dan tasawuf dapat kita
ketahui dari uraian yang disampaikan Harun Nasution. Menurutnya, ketika mempelajari
tasawuf ternyata pula al-Qur’an dan Hadits mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan
Hadits menekankkan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa
kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati, dan berbagai akhlak terpuji
lainnya. Nilai-nilai ini harus dimiliki oleh seorang muslim, dan dimasukkan ke
dalam dirinya dari semasa ia kecil. Secara sederhana, hubungan keduanya dalam
rangka mendekatkan diri kepada Allah, mencakup dua aspek berikut:
1. Etika Horizontal الأخلاق الإنسانية
2. Etika Vertikal الأخلاق باالله
Kedua aspek ini menjadi semacam media untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam implementasinya, kedua aspek ini
dilakukan dengan cara :
1. Dengan akhlak, kita
berusaha menghias diri, dengan sifat-sifat terpuji, dan menjahui sifat-sifat
tercela.
2. Dengan Tasawuf, kita
selalu berusaha membersihkan hati dari dosa-dosa atau kotoran-kotoran
rohaniyah.
Kedua cara di atas dilakukan dengan tujuan
agar kita bisa dan selalu dekat dengan yang Maha suci, maka kita semaksimal
mungkin berusaha terus dan terus mensucikan diri kita dari hal-hal yang dapat
menghalangi kita untuk bisa dekat dengan Dzat Yang Maha Suci.
C.
Ruang Lingkup Akhlak
dan Tasawwuf
1. Ruang Lingkup Akhlak
Objek pembahasan ilmu
akhlak adalahperbuatan manusia untuk selanjutnya diberikan penilain apakan baik
atau buruk, dan mempunyai ciri-ciri perbuatan yang dilakukan atas
kehendak dan kemauan, telah dilakukan secara kontinyu sehingga menjadi tradisi
dalam kehidupannya.
Dr. Abdullah dalam
buku Dustur al-Akhlaq fi al-Islam, membagi ruang lingkup akhlaq kedalam lima
macam aspek kehidupan, yaitu:
a. Akhlak perorangan الأخلا ق الفرد ية
Akhlak ini dibagi menjadi :
1) Semua hal yang
diperintahkan (al-awamir).
2) Segala yang dilarang (
al-nawahi).
3) Hal-hal yang
diperbolehkan ( al-mubahat).
4) Akhlak dalam keadaan
darurat (al-mukhalafah bi al-idhthirar).
b. Akhlak keluarga الأخلا ق الأ سرية
Akhlak ini juga terbagi menjadi :
1) Kewajiban timbal balik
orang tua dan anak (wajibat nahwa ushul wa al-furu).
2) Kewajiban suami &
isteri ( wajibat baina al-azwaj).
3) Kewajiban terhadap
kerabat dekat (wajibat nahwa al-aqarib).
c. Akhlak
bermasyarakat الأخلا ق الإجتماعية
Akhlak ini meliputi :
1) Hal-hal yang dilarang
(al-makhdzurat).
2) Hal-hal
yang diperintahkan (al-awamir).
3) Kaidah-kaidah
adab (qawa’id al-adab).
d. Akhlak
bernegara الأخلاق الد و لة
Akhlak ini
meliputi :
1) Hubungan antara
pemimpin dan rakyat (al-‘alaqah baina al-rais wa al-sya’b).
2) Hubungan
luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
e. Akhlak beragama الأخلا ق الد ينية
Akhlak ini
meliputi kewajiban terhadap Allah swt.
Ruang lingkup di atas
dipandang sangat luas karena mencakup semua aspek kehidupan. Secara vertikal
hubungan dengan sang Haliq dan secara horizontal dengan sesama manusia. Jika
ruang lingkup akhlak tersebut dipersempit tetapi memiliki cakupan yang
menyeluruh maka akhlak tersebut dapat dibagi menjadi :
a. Akhlak (tata krama)
kepada Allah swt.
b. Akhlak kepada Rasul
Allah saw.
c. Akhlak untuk diri
pribadi.
d. Akhlak dalam keluarga.
e. Akhlak dalam
masyarakat.
f. Ahlak bernegara.
2. Ruang Lingkup Tasawwuf
Tasawuf adalah nama
lain dari “Mistisisme dalam islam”. Di kalangan orientalis barat dikenal dengan
sebutan “Sufisme”. Kata “Sufisme” merupakan istilah khusus mistisisme islam.
Sehingga kata “sufisme” tidak ada pada mistisisme agama-agama lain.
Tasawuf bertujuan
untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud
mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat
Tuhan. Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan dialog antara ruh
manusia dengan Tuhan. Hal ini melalui cara bahwa manusia perlu mengasingkan
diri. Keberadaannya yang dekat dengan Tuhan akan berbentuk “Ijtihad” (bersatu)
dengan Tuhan. Demikian ini menjadi inti persoalan “Sofisme” baik pada agama
islam maupun di luarnya.
Dengan pemikiran di
atas, dapat dipahami bahwa “tasawuf/mistisisme islam” adalah suatu ilmu yang
mempelajari suatu cara, bagaimana seseorang dapat mudah berada di hadirat Allah
SWT (Tuhan). Maka gerakan “kejiwaan” penuh dirasakan guna memikirkan betul
suatu hakikat kontak hubung yang mampu menelaah informasi dari Tuhannya.
Tasawuf atau
mistisisme dalam islam beresensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk
hidup “kezuhudan” (menjauhi kemewahan duniawi). Tujuan tasawuf untuk bisa
berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan maksud ada perasaan benar-benar
berada di hadirat Tuhan. Para sufi beranggapan bahwa ibadah yang
diselenggarakan dengan cara formal belum dianggap memuaskan karena belum
memenuhi kebutuhan spiritual kaum sufi.
Dengan demikian, maka
tampaklah jelas bahwa ruang lingkup ilmu tasawuf itu adalah hal-hal yang
berkenaan dengan upaya-upaya/cara-cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang
bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus secara langsung dari Tuhan.
D.
Tujuan Mempelajari
Akhlak dan Tasawwuf
1. Tujuan Mempelajari
Akhlak
Tujuan akhlak adalah
menggapai suatu kebahagiaan hidup umat manusia baik di dunia dan di akhirat.
Dikarekan itulah kita sebagai manusia untuk hidup saling membantu baik dari
pekerjaan, kebutuhan atau lainnya.
Tujuan mempelajari
akhlak diantaranya adalah menghindari pemisahan antara akhlak dan ibadah. Atau
bila kita memakai istilah: menghindari pemisahan agama dengan dunia
(sekulerisme). Kita sering mendengar celotehan, “Agama adalah urusan
akhirat sedang masalah dunia adalah urusan masing-masing”. Atau
ungkapan,“Agama adalah urusan masjid, di luar itu terserah semau gue”. Maka
jangan heran terhadap seseorang yang beribadah, kemudian di lain waktu
akhlaknya tidak benar. Ini merupakan kesalahan fatal. Kita pun sering menjumpai
orang-orang yang amanah dan jujur, tetapi mereka tidak shalat. Ini juga keliru.
Selanjutnya Mustafa
Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlaq itu, ialah untuk membersihkan
kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci
bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan. (http://abiturohmansyah.blogspot.com)
Dengan demikian secara
ringkas dapat dikatakan bahwa Ilmu Akhlak bertujuan untuk memberikan pedoman
atau penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk.
Terhadap perbuatan yang baik ia beruasaha melakukannya, dan terhadap yang buruk
ia berusaha untuk menghindarinya.
2. Tujuan Mempelajari
Tasawwuf
Tujuan tasawuf adalah ma’rifatullah (mengenal
Allah secara mutlak dan lebih jelas). Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu
kebersihan diri dan taqarrub kepada Allah. Namun taswuf tidak boleh melanggar
apa-apa yang telah secara jelas diatur oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik dalam
aqidah, pemahaman ataupun tata cara yang dilaku-kan.( Departemen Agama RI,
(Jakarta: PT. Syaamil, 2005:69)
Buah yang diharapkan dari laku Tasawwuf adalah
jiwa yang dermawan, hati yang tenang, dan pekerti yang baik kepada semua
makluk. Dan Tassawuf dapat digunakan sebagai sarana untuk mendidik hati dan
mengetahui alam gaib menuju buahnya tersebut diatas. Ilmu Tassawuf tidak
berbicara tentang ungkapan lisan, melainkan tentang perasaan dan emosi. Ilmu
ini tidak bisa dipelajari dari lembar kertas, melainkan diambil dari para ahli
rasa. Ilmu ini tidak bisa diperoleh dengan banyak ceritera, melainkan
dengan melayani para guru dan menyertai para ahli kesempurnaan ( Ahlul Kamal).( http://sufipopuler.wordpress.com)
Melihat dari itu
semua, kita dapat untuk bisa memahami betapa pentingnya mengenal Allah secara
lebih dalam dan memahaminya dengan benar. Sama juga dengan kebersihan diri
dan taqarrub, tapi kita tidak boleh melanggar apapun yang telahditentukan
oleh al-qur`an.
E.
Manfaat Mempelajari
Akhlak dan Tasawwuf
1. Manfaat Mempelajari
Akhlak
Berkenaan dengan
manfaat mempelajari Ilmu Akhlak ini, Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut:
“Tujuan mempelajari Ilmu Akhlak dan
permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya
sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang buruk. Bersikap
adil termasuk baik, sedangkan berbuat zalim termasuk perbuatan buruk, membayar
hutang kepada pemiliknya termasuk perbuatan baik, sedangkan mengingkari hutang
termasuk perbuatan buruk”.( Ahmad Amin, t.t:3)
Seseorang yang
mempelajari ilmu ini akan memiliki pengetahuan tentang kriteria perbuatan baik
dan buruk, dan selanjutnya ia akan banyak mengetahui perbuatan yang baik dan
perbuatan yang buruk.
Ilmua akhlak atau
akhlak yang mulia juga berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai
aktivitas kehidupan manusia disegala bidang. Seseorang yang memiliki IPTEK yang
maju disertai akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuaan yang Ia miliki itu
akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan hidup manusia. Sebaliknya,
orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi modern, memiliki pangkat,
harta, kekuasaan, namun tidak disertai dengan akhlak yang mulia, maka semuanya
itu akan disalah gunakan yang akibatnya akan menimbulkan bencana dimuka bumi.
Demikian juga dengan mengetahui akhlak yang
buruk serta bahaya-bahaya yang akan ditimbulkan darinya, menyebabkan orang
enggan untuk melakukannya dan berusaha menjauhinya. Orang yang demikian
pada akhirnya akan terhindar dari berbagai perbuatan yang dapat membahyakan
dirinya.
Akhlak juga merupakan mutiara hidup yang
membedakan makhluk manusia dengan makhluk lainnya. Setiap orang tidak lagi
peduli soal baik atau buruk, soal halal dan haram. Karena yang berperan dan
berfungsi pada diri masing-masing manusia adalah elemen syahwat (nafsu) nya
yang telah dapat mengalahkan elemen akal pikiran, oleh karena itu Imam
Al-Ghazali dalam kitabnya “Mukasyafatul Qulub” menyebutkan
bahwa Allah menciptakan manusia (anak Adam) lengkap dengan elemen
akal dansyahwat (nafsu). Maka barang siapa yang nafsunya mengalahkan
akalnya, hewan melata lebih baik dari pada manusia itu. Sebaliknya bila manusia
dengan akalnya dapat mengalahkan nafsunya, maka dia derajatnya di atas malaikat.
(http.//www.aminazizcenter.com)
2. Manfaat Mempelajari
Tasawwuf
Faedah tasawwuf ialah
membersihkan hati agar sampai kepada ma’rifat akan terhadap Allah Ta’ala
sebagai ma’rifat yang sempurna untuk keselamatan di akhirat dan mendapat
keridhaan Allah Ta’ala dan mendapatkan kebahagiaan abadi
(http://abiturohmansyah.blogspot.com)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhlak adalah Kehendak jiwa manusia yang
menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan
pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Tasawuf adalah suatu kehidupan rohani yang
merupakan fitrah manusia dengan tujuan untuk mencapai hakikat yang tinggi,
berada dekat atau sedekat mungkin dengan Allah dengan jalan menyucikan jiwanya,
dengan melepaskan jiwanya dari noda-noda sifat dan perbuatan tercela.
Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak
dalam pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesama manusia,
sedangkan tasawwuf mengatur jalinan komunikasi vertical antara manusia dengan
Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawwuf, sehingga dalam
prakteknya tasawwuf mementingkan akhlak.
Ruang linkup akhlak
meliputi:
1. Akhlak (tata krama)
kepada Allah swt.
2. Akhlak kepada Rasul
Allah saw.
3. Akhlak untuk diri
pribadi.
4. Akhlak dalam keluarga.
5. Akhlak dalam
masyarakat.
6. Ahlak bernegara.
Ruang lingkup tasawuf meliputi hal-hal yang
berkenaan dengan upaya-upaya/cara-cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang
bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus secara langsung dari Tuhan.
Akhlak dan tasawwuf memiliki tujuan yang sama
yaitu, mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari
perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji.
Manfaat mempelajari akhlak tasawwuf, kita bisa
mengetahui perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk, sehingga bisa mengarah
kita pada kehidupan yang bahagia di dunia dan diakhirat.
B. Saran
Manusia tidak
selamanya tepat pertimbangannya, adil sikapnya, kadang-kadang
manusia berbuat yang tidak masuk akal. Oleh sebab itu, manusia perlu sekali
tahu mengenai diri.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat
jauh dari kesempurnaan. Masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan
makalah ini, baik yang kami sengaja maupun yang tidak kami sengaja. Maka dari
itu sangat kami harapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga dengan berbagai kekurangan yang ada ini tidak
mengurangi nilai-nilai dan manfaat dari mempelajari Ilmu Akhlak Tasawuf.
DAFTAR PUSTAKA
Nata Abuddin. Akhlak
Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010)
A. Mustofa. Akhlak
Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1995)
Nasution Harun, Filsafat
dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983)
http://al-poenya.blogspot.com/2011/11/resume-buku-akhlak-tasawuf_12.html
http://muhammadyusuf18.blogspot.com/2011/12/pengertian-dan-ruang-lingkup-tasawuf.html
http://moemartblog.blogspot.com/2012/03/tujuan-akhlak-tasawuf.html
Amin Ahmad, Kitab
al-Akhlaq, (Mesir:Daral Kutubal Mishriyah, cet. III, tt.)
http://dc305.4shared.com/doc/T1XMOCoc/preview.html
Departemen Agama
RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT. Syaamil, 2005)
http://sufipopuler.wordpress.com/artikel-tasawuf/fungsi-dan-keutamaan-ilmu-tasawuf/
http.//www.aminazizcenter.com/artikel-61-kuliah-akhlak-tasawuf.html/2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar