MAKALAH
PENDIDIKAN DAN MENDIDIK ANAK USIA
DINI MENURUT AL-QUR’AN & AL-HADITS
Diajukan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Konsep Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini
Dosen:
Eni Sustini, M.Pd.
Disusun oleh:
IHSANUDIN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI -
PUI)
MAJALENGKA
TAHUN PELAJARAN 2015 / 2016
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, pemberi petunjuk pada kebenaran dan jalan yang lurus.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Shallalahu
Alaihi wa Sallam. Syukur Alhamdulillah kami masih diberi kesempatan
untuk dapat menyelesaikan dan menghadirkan makalah dengan tema “Pendidikan Dan
Mendidik Anak Usia Dini
Menurut
Al-Qur’an & Al-Hadits”. Makalah ini di tulis untuk memenuhi tugas Konsep Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini yang dosennya adalah Eni Sustini,
M.Pd.
Makalah ini di
makasudkan bukan hanya untuk memenuhi tugas Konsep Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini, akan tetapi juga untuk siapa saja
yang membacanya supaya mengerti tentang apa itu pendidikan dan bagaiman cara
mendidik anak sejak dini menurut Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Dengan
keterbatasan waktu dan juga ilmu yang kita miliki dan masih banyak materi yang
seharusnya ada dalam makalah ini maka tentu banyak kekurangannya, karena ada
suatu pepatah mengatakan “ Tiada gading yang tak retak “maka sangat kelompok
kami harapkan keritik dan saran dari dosen kami yang tercinta Eni Sustini,
M.Pd. untuk makalah kami ini supaya lebih baik lagi dalam menulis makalah ke
depannya.
Kami memahami bahwa dalam makalah ini masih banyak ditemui kekurangan dan
banyak hal yang harus diperbaiki. Maka dari itu, kami mengharapkan adanya saran
dan kritik yang bersifat membangun agar dapat menjadi bahan evaluasi kami dalam
menyusun makalah sehingga dikemudian hari dapat tercipta makalah yang lebih
baik lagi. Akhir
kata, saya mengucapkan terimakasih.
15 Oktober 2015
penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................
iii
B. Rumusan Masalah .........................................................................................
iv
C. Tujuan
Penulisan ........................................................................................... iv
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian pendidikan ........................................................... 1
2.2 Pengertian Pendidikan menurut Al-Qur’an dan
Al-Hadist .... 1
2.3 Peran orang tua dalam mendidik anak sejak dini .................. 5
1.
Memberi Tauhid yang mantaf .............................................................. 6
2.
Mendidik agar berbakti kepada
kedua orang tua ................................ 7
3.
Menanamkan rasa tanggung jawab ...................................................... 7
4.
Membiasakan shalat Amal Ma’ruf dan
Nahi Munkar .......................... 8
5.
Menanamkan kesabaran ....................................................................... 9
6.
Menjauhkan sifat angkuh dan sombong
.............................................. 9
7.
Memupuk kesederhanaan .................................................................... 10
8.
Menjaga kesehatan dan keamanan
lingkungan .................................... 11
9.
Mendidik agar berakhlakul karimah .................................................... 11
10.
Mencintai Nabi, Keluarganya
serta membacai Al-Qur’an ................... 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................................
13
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah hak
warga negara, tidak terkecuali pendidikan di usia dini merupakan hak warga
negara dalam mengembangkan potensinya sejak dini. Berdasarkan berbagai
penelitian bahwa usia dini merupakan pondasi terbaik dalam mengembangkan
kehidupannya di masa depan. Selain itu pendidikan di usia dini dapat
mengoptimalkan kemampuan dasar anak dalam menerima proses pendidikan di
usia-usia berikutnya.
Dengan terbitnya
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas),
keberadaan pendidikan usia dini diakui secara sah. Hal itu terkandung dalam
bagian tujuh, pasal 28 ayat 1-6, di mana pendidikan anak usia dini diarahkan
pada pendidikan pra-sekolah yaitu anak usia 0-6 tahun. Dalam penjabaran
pengertian, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisidiknas menyatakan bahwa:
Pendidikan
anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Agama Islam adalah
agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah
menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah
menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama
yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima
selain Islam. Allah ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini Aku
telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku
atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al
Maa’idah: 3)
Salah satu tujuan diturunkannya agama
Islam adalah memperbaiki akhlak manusia. Ahklak hanya dapat dperbaiki dengan
proses pendidikan, baik formal maupun informal. Betapa pentingnya pendidikan
sehingga ayat yang pertama diturunkan adalah perintah Allah kepada manusia
untuk membaca, membaca semua penomena yang terjadi di alam dunia ini. Konsep
membaca hanya dapat
dilakukan melalui proses pendidikan. Adapun tujuan pendidikan menurut Islam
adalah agar seseorang dapat memahami tentang kekuasaan Allah SWT (yang tersirat
dan tersurat) dengan segala peraturan-peraturannya. Allah serta mampu
menempatkan posisinya sebagai hamba Allah SWT.
Mengkaji makna
pendidikan anak menurut Islam (Al-qur’an dan Al-hadist) dengan seluruh aspeknya
merupakan kewajiban setiap Muslim, mempelajari berbagai hal, baik ilmu
aqidah, syariah maupun muamalah merupakan rangkuman pokok-pokok ajaran agama
Islam yang sesuai dengan Al-qur’an dan Al-hadist Karena itu, penulis akan
menggali khasanah ilmu pendidikan dalam pandangan Islam (Al-qur’an dan
Al_hadist), baik pengertian, tujuan ataupun ruang lingkup pendidikan dan
mendidik anak sejak dini menurut Al-qur’an dan Al-hadist.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di
atas, maka rumusan masalah yang akan dipelajri dalam penyusunan makalah ini
adalah:
1.
Apakah
yang di makasud dengan pendidikan?
2.
Bagaimana
pengertian pendidikan menurut Al-qur’an dan Al-hadist?
3.
Bagaimana
peran orang tua terhadap pendidikan dan mendidik anak USIA dini?
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan penyusunan
makalah yang yang bertema tentang pendidikan dan mendidik anak usia dini
menurut Al-Qur’an dan Al-hadits adalah:
1.
Mengetahui
makna dan pengertian pendidikan.
2.
Mengkaji
pandangan pendidikan dan mendidik anak sejak dini menurut Al-qur’an dan
Al-hadist.
3.
Mengetahui
peran orang tua dalam mendidik anak USIA dini.
BAB
II
Pembahasan
2.1 Pengertian pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Penjelasan tersebut
nampak jelas, bahwa pendidikan adalah pembentuk kepribadian bangsa yang
meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Kehandalan/kualitas pendidikan akan mempengaruhi kehidupan suatu bangsa dan
masyarakat, baik sekarang maupun masa yang akan datang. Dengan demikian
kemampuan bangsa dalam menghadapi masa depan sangat ditentukan oleh mekanisme
dan sistem pendidikan yang dimiliki dan sedang berjalan.
Pendidikan merupakan hak setiap warga negara, namun masih
ada beberapa dari mereka yang belum mendapatkan hak tersebut. Hingga saat
ini, peluang terbesar untuk memperoleh akses pendidikan yang baik hanya anak
orang kaya dan pintar. Dengan bermodalkan kemampuan ekonomi yang lebih dari
cukup, didukung dengan kemampuan berpikir tinggi, menjadi faktor pendukung
untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik. Mereka berpeluang besar
memasuki sekolah-sekolah elit, berkualitas, berstandar nasional, bahkan
internasional. Hal ini menciptakan lingkungan belajar-mengajar yang kondusif,
karena ditunjang dengan kualitas anak didik yang punya daya pikir tinggi.
Selain itu, tersedianya sarana prasarana yang lengkap membantu untuk mewujudkan
pendidikan yang mapan.
2.2 Pengertian Pendidikan
menurut Al-Qur’an dan Al-Hadist
Pendidikan dapat ditinjau dari dua
segi. Pertama pendidikan dari sudut pandangan masyrakat dimana pendidikan
berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi
muda yang bertujuan agar hidup masyarakat tetap berlanjut, atau dengan kata
lain agar suatu masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang senantiasa
tersalurkan dari generasi ke generasi dan senantiasa terpelihara dan tetap
eksis dari zaman ke zaman. Kedua pendidikan dari sudut pandang individu dimana
pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi
dalam diri setipa individu sebab individu bagaikan lautan yang penuh dengan
keindahan yang tidak tampak, itu dikarenakan terpendam di dasar laut yang
paling dalam. Keindahan-keindahan yang terpendam tersebut perlu untuk
ditampakkan kepermukaan laut sehingga dapat dirasakan keberadaannya. Dalam diri
setiap manusia memiliki pelbagai bakat dan kemampuan yang apabila dapat
dipergunakan dengan baik, maka akan berubah menjadi intan dan permata yang
keindahannya dapat dinikmati oleh banyak orang dengan kata lain bahwa setiap
individu yang terdidik akan bermanfaat bagi manusia lainnya.
Dari kedua sudut pandang pendidikan
di atas kemudian datanglah Islam yang secara komprehensif memadukan kedua sisi
bentuk pendidikan yang berlandasakn al-Qur’an dan as-Sunnah, dimana Islam
mendidik individu menjadi manusia yang beriman, berakhlak yang mulia dan
beradab yang kemudian melahirkan masyarakat yang bermartabat, teori ini
didasarkan pada firman Allah:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ
لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ
لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا
إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu
pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan
di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang
agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali
kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Ayat di atas menunjukkan bahwa
tidaklah sepantasnya seluruh individu orang-orang yang beriman (muslim)
berangkat kemedan perang untuk memerangi kaum Kuffar dengan menggunakan
senjata, akan tetapi hendaknya terdapat salah seorang diantar setiap golongan
mencari pendidikan yang layak agar kembali kepada masyarakatnya dan mendidik
mereka agar senantiasa menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari jilatan api
Neraka.
Istilah pendidikan bisa ditemukan
dalam al-Qur’an dengan istilah ‘at-Tarbiyah’, ‘at-Ta’lim’, dan ‘at-Tadhib’,
tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata ‘rabbi’, kata at-Tarbiyah
adalah bentuk masdar dari fi’il madhi rabba , yang mempunyai pengertian yang
sama dengan kata ‘rabb’ yang berarti nama Allah. Dalam al-Qur’an tidak
ditemukan kata ‘at-Tarbiyah’, tetapi ada istilah yang senada dengan itu yaitu;
ar-rabb, rabbayani, murabbi, rabbiyun, rabbani. Sebaiknya dalam hadis digunakan
istilah rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang
berbeda-beda.
Beberapa ahli tafsir berbeda
pendapat dalam mengartikan kat-kata diatas. Sebagaimana dikutip dari Ahmad
Tafsir bahwa pendidikan merupakan arti dari kata ‘Tarbiyah’ kata tersebut
berasal dari tiga kata yaitu; rabba-yarbu yang bertambah, tumbuh, dan ‘rabbiya-
yarbaa’ berarti menjadi besar, serta ‘rabba-yarubbu’ yang berarti memperbaiki,
menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara.
Konferensi pendidikan yang pertama
tahun 1977 ternyata tidak berhasil menyusun definisi pendidikan yang dapat
disepakati, hal ini dikarenakan; 1) banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut
sebagai kegiatan pendidikan, 2) luasnya aspek yang dikaji oleh pendidikan .
Para ahli memberikan definisi at-Tarbiyah, bila diidentikan
dengan ‘arrab’ sebagai berikut;
1)
Menurut al-Qurtubi, bahwa; arti
‘ar-rabb adalah pemilik, tua, Maha memperbaiki, Yang Maha pengatur, Yang Maha
mengubah, dan Yang Maha menunaikan
2)
Menurut louis al-Ma’luf, ar-rabb
berarti tuan, pemilik, memperbaiki, perawatan, tambah dan mengumpulkan .
3)
Menurut Fahrur Razi, ar-rabb
merupakan fonem yang seakar dengan al-Tarbiyah, yang mempunyai arti at-Tanwiyah
(pertumbuhan dan perkembangan) .
4)
Al-Jauhari memberi arti
at-Tarbiyah, rabban dan rabba dengan memberi makan, memelihara dan mengasuh.
5)
Kata dasar ar-rabb, yang mempunyai
arti yang luas antara lain; memilki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi
makan, menumbuhkan, mengembangkan dan berarti pula mendidik.
Apabila pendidikan di identikan
dengan at-ta’lim, para ahli memberikan pengertian sebagai berikut;
1). Abdul Fattah Jalal,
mendefinisikan at-ta’lim sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman,
pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau
pembersihan manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia berada
dalam kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari apa
yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya . At-ata’lim menyangkut
aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidup serta
pedoman prilaku yang baik. At-ta’lim merupakan proses yang terus menerus
diusahakan semenjak dilahirkan, sebab menusia dilahirkan tidak mengetahui
apa-apa, tetapi dia dibekali dengan berbagai potensi yang mempersiapkannya
untuk meraih dan memahami ilmu pengetahuan serta memanfaatkanya dalam
kehidupan.
2). Munurut Rasyid Ridho, at-ta’lim
adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa
adanya batasan dan ketentuan tertentu . Definisi ini berpijak pada firman Allah
al-Baqoroh ayat 31 tentang allama Allah kepada Nabi Adam as, sedangkan proses
tranmisi dilakukan secara bertahap sebagaimana Adam menyaksikan dan
menganalisis asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya. Dari penjelasan ini
disimpulkan bahwa pengertian at-ta’lim lebih luas/lebih umum sifatnya daripada
istilah at-tarbiyah yang khusus berlaku pada anak-anak. Hal ini karena
at-ta’lim mencakup fase bayi, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, sedangkan
at-tarbiyah, khusus pendidikan dan pengajaran fase bayi dan anak-anak.
3). Sayed Muhammad an Naquid
al-Atas, mengartikan at-ta’lim disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya
pengenalan secara mendasar, namun bila at-ta’lim disinonimkan dengan
at-tarbiyah, at-ta’lim mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam
sebuah system .
Menurutnya ada hal yang membedakan
antara at-tarbiyah dengan at-ta’lim, yaitu raung lingkup at-ta’lim lebih umum
daripada at-tarbiyah, karena at-tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan
hanya mengacu pada kondisi eksistensial dan juga at-tarbiyah merupakan
terjemahan dari bahasa latin education, yang keduanya mengacu kepada segala
sesuatu yang bersifat fisik-mental, tetapi sumbernya bukan dari wahyu.
Pengunaan at-ta’dib, menurut Naquib
al-Attas lebih cocok untuk digunakan dalam pendidikan Islam, konsep inilah yang
diajarkan oleh Rasul. At-ta’dib berarti pengenalan, pengakuan yang secara
berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat
dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedimikian rupa, sehingga
membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam
tatanan wujud dan keberadaanya .
Kata ‘addaba’ yang juga berarti
mendidik dan kata ‘ta’dib’ yang berarti pendidikan adalah diambil dari hadits
Nabi “Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang
terbaik” .
4). Menurut Muhammad Athiyah
al-Abrasy, pengertian at-ta’lim berbeda dengan pendapat diatas, beliau
mengatakan bahwa; at-ta’lim lebih khusus dibandingkan dengan at-tarbiyah,
karena at-ta’lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada
aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakuip keseluruhan
aspek-aspek pendidikan .
Masih lagi pengertian pendidikan
dari berbagai tokoh pemikir Islam, tetapi cukuplah pendapat diatas untuk
mewakili pemahaman kita tentang konsep pendidikan Islam (al-Qur’an ). Konsep
filosofis pendidikan Islam adalah bersumber dari hablum min Allah (hubungan
dengan Allah) dan hablum min al-nas (hubungan dengan sesama manusia) dan hablum
min al-alam (hubungan dengan manusia dengan alam sekitas) yang selanjutnya
berkembang ke berbagai teori yang ada seperti sekarang ini. Inprirasi dasar
yaitu berasal dari al-Qur’an.
Rasulullah Saw juga menegaskan bahwa
setiap individu muslim baik pria maupun wanita berkewajiban mengenyam
pendidikan yang layak dan baik, sebagaiman yang disabdakan oleh beliau Saw:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ
فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم
Dari Anas bin Malik beliau berkata:
Rasulullah Saw bersabda: Menuntut ilmu adalah kewjiban bagi setiap individu
muslim. (H.R Ibnu Majah)[3]
Berdasarkan tinjauan di atas,
maka penulis dalam makalah ini berusaha untuk mengupas secara tah}li>ly
kandungan matan suatu hadis yang berhubungan dengan tujuan pendidikan yakni, Sabda
Rasulullah Saw:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ
فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barang siapa yang meniti jalan untuk
mencaari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.
2.3 Peran orang tua dalam mendidik
anak sejak dini.
Pendidikan Anak dilakukan tidak
hanya sejak anak memasuki masa kekanak-kanakan. Tapi sejak masa prenatal hingga
seorang anakdewasa, orang tua masih terus memberikan pendidikan pada anaknya.
Dalam Islam, kita mengenal konsep
pendidikan seumur hidup yang terangkum dalam kalimat “minal mahdi ilal lahdi”,
dari buaian hingga liang kubur. Konsep long life education ini melibatkan
banyak unsur pembentuk kepribadian manusia dari sejak dia terlahir hingga
akhirnya meninggal dunia. Di antara unsur-unsur tersebut adalah: orangtua,
keluarga, lingkungan, sekolah, dan teman. Jika dilihat dari beberapa unsur
tersebut, kita bisa melihat dengan jelas, orangtua merupakan unsur terdekat
yang akan sangat mempengaruhi kepribadian seorang anak.
Rasulullah Saw mengingatkan peran penting orangtua ini
dengan sabdanya:
“Setiap anak dilahirkan sesuai
dengan fitrahnya, hanya kedua orang tuanyalah yang akan membuat dirinya menjadi
seorang Yahudi, seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR Bukhari ,Ibnu
Hibban DanBaihaqi)
Tentunya hadits ini tidak dipahami
bahwa orangtua sebagai suatu unsur tunggal sebagai penentu masa depan anak.
Tapi, harus disadari bahwa orangtua mempunyai peran yang sangat penting bagi
masa depannya. Hal ini juga disinggung dalam sebuah peribahasa “Buah tidak
jatuh jauh dari pohonnya”. Keterlibatan peran orangtua bisa bersifat genetik
dan non-genetik. Secara genetik, beberapa sifat yang dipunyai anak cenderung
diperoleh dari sifat-sifat orangtuanya. Tapi, secara non genetik beberapa
perilaku anak dipengaruhi oleh sikap orangtua.
Bimbingan, perhatian dan kasih
sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan
basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis anak serta
niali-nilai social dan religius pada diri anak didik.
Di sinilah orangtua menjadi unsur
yang sangat penting bagi pendidikan anak. Sampai pada titik ini, kita
diingatkan untuk memperhatikan dua hal penting: pertama, pendidikan sebagai
suatu proses seumur hidup, dan kedua, peran sentral orangtua dalam Membentuk Kepribadian
anak dengan Cara:
1. Membekali Tauhid Yang Mantap.
Tauhid merupakan sesuatu yang sangat
urgen dalam pendidikan anak. Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang ahli
hikmah yang bernama Luqman. Allah Swt mengabadikan nasehat Luqman kepada
anaknya dalam al quran, sebagaimana berikut:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ
وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar”.
Yang paling pertama yang kita
lakukan adalah memperkenalkan sang anak dengan Rabbnya, karena dengan tauhid
atau iman yang mantap akan menggiring sang anak pada kesempurnaan lahir
dan batin. Apabila iman seseorang telah sempurna maka akan memiliki akhlak yang
mulia, sebagaimana sabda Rasulullah:
” أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنهمْ خُلُقًا ”
(رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ(
“Mukmin yang sempurna imannya, bagus
akhlaknya” (HR. Tirmidzi).
Pada awal pembinaan para sahabatnya, Rasulullah Saw lebih memprioritaskan
pembinaan iman, begitupun yang dilakukan Luqman terhadap anaknya, maka
seyogyanya setiap orangtua pada zaman sekarang juga harus memanamkan keimanan
yang kuat kepada putra putrinya, karena iman itulah yang akan menjadi tamengnya
dimanapun dia berada dan dalam kondisi apapun.
2. Medidik Agar Berbakti Kepada Kedua
Orang Tua.
Nasihat kepada anak untuk berbakti kepada orang tua sering diulang di dalam
al-Qur’an al-Karim dan pesan-pesan Rasulullah saw. Sedangkan nasihat kepada
orangtua untuk berbuat baik kepada anak itu sangat sedikit. Yang demikian
dikarenakan fitrah orangtua mengayomi dan menyayangi anaknya.
Inilah gambaran inspiratif dari
luqman yang menasehati anaknya agar berbakti kepada orang tuanya. Sebagaimana
tertuang dalam Al qur’an:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ
بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun ,.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu. (Q.S: Luqman:14)
Ayat ini memberi Gambaran tentang
pengorbanan Sang ibu yang luar biasa, ketika mengandung hingga menyusui sang
buah hati dengan kasih sayang lebih besar, lebih dalam, lebih hangat, dan lebih
lembut.
Seorang anak tidak mampu mengganti apa yang telah dikorbankan orangtua,
meskipun ia memberikan seluruh usianya untuk keduanya. Al-Hafizh Abu Bakar
al-Bazzar dalam Musnad-nya meriwayatkan,bahwa ada seorang laki-laki thawaf
sambil menggendong ibunya. Lalu IA bertanya kepada Nabi saw: “Apakah laki-laki
itu telah membayar hak ibunya?” Beliau menjawab “Tidak” , meskipun untuk satu
keluhan nafas yang panjang.” Demikianlah, meskipun begitu berat pengorbanan
kita namun kita tidak dapat membayar pengorbanan Sang ibu walau untuk satu
keluhan nafas yang panjang, baik saat kehamilan atau dalam persalinan.
- Menanamkan
rasa tanggung Jawab.
Pendidikan anak yang ditanamkan Luqman kepada anaknya adalah rasa tanggung
jawab terhadap apa yang dilakukannya, karena seluruh perbuatan manusia Akan
dipertangung jawabakan di akhirat, amal baik akan di balas dengan kebaikan dan
amal buruk akan dibalas dengan keburukan. Seperti dalam firman Allah SWT:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ
مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ
أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Lukman berkata): “Hai anakku,
sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam
batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya
(membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Q.S:
Luqman: 16)
Dengan menanamkan rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, hal ini
akan berpengaruh positif dalam kehidupan sang anak, karena dengan demikian sang
anak dapat mengontrol dan mengendalikan diri dalam berbuat.
- Membiasakan
Shalat dan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.
Setelah kita memperkenalkan sang anak dengan Rabbnya, kita ajari bagaimana dia
berkomunikasi dengan Rabbnya, yaitu mendirikan shalat Lima waktu. Kemudian kita
juga tidak luput mendidiknya dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, Allah SWT
berfirman:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ
وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ
الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah salat dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (Q.S: Luqman:17)
Mengenai
shalat Nabi Muhammad Saw juga menekankan di dalam sebuah hadits:
“مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءَ سَبْعِ
سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا
بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “
“Perintahkanlah anak-anakmu
mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika
tidak mengerjakannya), Ketika berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat
tidut mereka” (HR. Abu Daud).
Pada hadits ini Rasulullah Saw memakai ungkapan idhribuu yang arti dasarnya
adalah pukullah secara fisik jika anak melalaikan shalat. Namun makna lain yang
lebih kontekstual adalah ‘didiklah’. Dengan demikian bentuk mendidik sangat
luas, misalnya memberi teladan, membiasakannya, serta memberi motivasi untuk
sahalat.
Dalam ayat diatas, Luqman juga menasehati anaknya untuk amar ma’ruf dan nahi
mungkar. Kebaikan merupakan sesuatu yang diketahui oleh setiap orang, maka
kebaikan itu disebut dengan ma’ruf yang artinya dikenal, begitupun kebathilan,
manusia pada dasarnya Akan selalu mengingkari segala bentuk kebathilan, maka
dari itu bathil disebut dengan munkar. Namun kadangkala manusia didominasi oleh
hawa nafsunya sehingga melaksanakan kebathilan dan meninggalkan kebaikan.
Adapun dampak positif dalam diri anak, minimal ketika dia memerintahkan
kebaikan pada orang lain, maka sang anak memiliki beban mental akan keharusan
melakukan kebaikan itu. Begitu pula dengan nahi munkar, paling tidak dia
membenci pada kemunkaran sehingga dia tidak Akan melakukannya.
- Menanamkan
Kesabaran.
Sudah sepantasnya kita sebagai orang tua mengajarkan kesabaran kepada anak,
karena hidup ini penuh dengan lika liku. Oleh karena itu sangat tepat apa yang
dinasihatkan Luqman kepada anaknya agar bersabar terhadap hal-hal yang menimpa
dirinya sebagai konsekuensi dari keimanan dan pembuktiannya, khususnya dalam
hal amar ma’ruf dan nahi munkar. Nasihat ini memang sangat penting agar seorang
anak tidak mudah putus asa dalam menjalani hidup yang penuh dengan cobaan lalu
menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkan.
Manakala seseorang memiliki kesabaran dalam hidupnya, maka Allah akan selalu
bersamanya, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman,
jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar” (QS Al Baqarah:153).
Disamping
itu, sabar juga menjadi salah satu kunci utama dalam mencapai keberhasilan, Allah
berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
“Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di
perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS
Ali Imran:200).
- Menjauhkan
Sifat Angkuh Dan Sombong
Sifat ini telah mencelakakan banyak makhluk ciptaan Allah SWT, mulai dari
peristiwa terusirnya Iblis dari surga hingga ditenggelamkannya qarun kedalam
bumi, serta banyak lagi kisah-kisah para ummat sebelum kita yang diadzab karena
kesombongannya.
Dengan demikian Luqman menasehati anaknya agar menjahui sifat angkuh dan
sombong, seperti dalam firman Allah SWT:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ
فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan
mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. (Q.S: Luqman:18)
Ibnu Katsir rahimahullah menafsiri kalimat :”Dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong,
keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan
Allah murka kepadamu”.
- Memupuk
Kesederhanaan
Sederhana yang dimaksud disini
adalah tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu, ketika berjalan, berjalanlah
dengan sopan, begitupun dalam berbicara. Kesederhanaan menggambarkan sebuah
ketenangan dan kesopanan tingkah laku yang merupakan buah dari budi pekerti
mulia.
Di antara wasiat Luqman yang
dikisahkan oleh Allah ‘azza WA jalla dalam Surat Luqman, tatkala dia berkata
kepada anaknya:
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ
مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan
dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai
(Q.S: Luqman: 19)
Makna “dan lunakkanlah suaramu”
adalah jangan berlebihan dalam berbicara dan jangan mengangkat suaramu dengan
perkataan yang tidak ada faidahnya, karena seburuk-buruk suara ialah suara
keledai. Al-Imam Mujahid dan yang lainnya mengatakan ‘Sesungguhnya
sejelek-jelek suara adalah suara keledai, yakni yang paling buruk dari
mengangkat suara adalah yang kerasnya menyerupai suara keledai.
Mengapa hidup sederhana demikian
penting? Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari sifat
dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul
gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?
- Menjaga
kesehatan dan keamanan lingkungan.
Rasulullah memerintahkan para orang
tua untuk mengajarkan anak-anaknya berenang, memanah dan menunggang kuda. hal
ini akan berdampak pada kesehatan sang anak. Baginda Rasulullah SAW sangat
memperhatikan kesehatan dan keamanan, sebab kesehatan dan keamanan merupakan
kebutuhan mendasar bagi manusia. Hal ini dapat kita renungkan, bagaimana jika
kita ditimpa penyakit dan keadaan lingkungan tidak aman. Lingkungan yang tidak
aman akan menimbulkan rasa takut, khawatir dan was-was. Perintah ini
menunjukkan agar setiap orang Islam hidup sehat dan senantiasa menjaga keamanan
lingkungan, dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda:
“علموا أولادكم السباحة والرماية وركوب الخيل“
“Ajarilah anak-anakmu berenang dan
memanah dan menunggang kuda”. (H.R bukhari/muslim)
- Mendidik
Agar Berakhlakul karimah
Pendidikan akhlak dimulai sejak ibu
mengandung, yaitu berakhlak yang baik kepada setiap orang. Perilaku ibu yang
tengah mengandung ini dapat memberikan pembelajaran awal kepada jabang bayi
untuk berakhlak mulia.
Sejak kecil anak harus diajarkan,
dibiasakan, dan dikondisikan melakukan perbuatan yang baik. Jika seorang anak
terbiasa melakukan perilaku yang buruk hingga ia besar, maka akan sukar
meluruskannya. Artinya, penanaman akhlak kepada anak dimulai sedini mungkin dan
seyogianya dilakukan oleh setiap orang tua. Jangan biarkan anak tanpa
pendidikan akhlak dan moral. Mari kita simak hadits Rasulullah berikut:
أكرموا أولادكم وأحسنوا آدبهم (رواه
ابن ماجة(
“Muliakanlah anak-anakmu dan
perbaikilah akhlak mereka”(HR Ibnu Majah)
- Mencintai
Nabi, Keluarganya Serta Mengajari Membaca Al Quran
Ada tiga perkara yang ditekankan Nabi Muhammad SAW dalam mendidik putra-putri
kita, sebagaimana sabda Beliau:
أدبوا أولادكم على ثلاث خصال: حب
نبيكم، وحب أهل بيته، وقراءة القرآن
“Didiklah anak-anakmu
dengan tiga perkara; Mencintai Nabi kalian(Muhammad SAW), mencintai
Ahlulbaitnya dan membaca Al-Qur’an”.
Teladani Nabi Muhammad SAW:
Memberikan teladan adalah metode paling jitu dalam pendidikan anak. Karenanya
memperkenalkan pribadi Nabi Muhammad saw sejak dini akan menjadi pondasi kuat
dalam pembangunan akhlaq pada putra putri. Jadikanlah sosok Nabi itu hidup
dalam benak mereka dan sangat mereka cintai. Tak ada pribadi yang lebih indah
budi pekertinya daripada Nabi Muhammad.
Teladani Keluarga Nabi: Keluarga
Nabi adalah istri dan anak-anak beliau dan juga menantu beliau yang shalih.
Tidak diragukan merekalah orang-orang terdekat dengan Nabi, Mereka pulalah
orang-orang yang paling mencintai Nabi dan berusaha melanjutkan perjuangan Nabi
dalam menyebarkan ajaran Islam. Kisah tentang mereka pun akan menjadi inspirasi
sangat berharga bagi anak-anak kita dalam meneladani Nabi.
Membaca Quran: Al quran merupakan
pedoman hidup bagi setiap insan, membaca dan mempelajarinya merupakan suatu
ibadah kepada Allah s.w.t. Selain daripada itu, Al-Quran juga mempunyai rahasia
dan hikmah yang tinggi. rahasianya perlu digali, pintu hikmahnya perlu
dipelajari supaya perjalanan hidup kita sentiasa dalam keridhaan Allah SWT.
Lebih-lebih lagi kita wajib mempercayai kitab Al-Quran yang mana kitab ini
merupakan pelengkap dan penyempurna rukun Iman seorang Muslim.
BAB
III
KESIMPULAN
Jadi dalam pendidikan dan mendidik anak sejak dini (USIA
dini) memang harus sesuai dengan apa yang ada di dalam Al-qur’an dan Al-hadist
sehingga anak menjadi anak yang taat pada Allah dan rasulnya begitu juga mereka
taat kepada orang tua dan keluarganya.
Ada beberapa pendidikan yang harus diberikan kepada anak
sejak lahir sampai berusia tujuh hari yakni; bersyukur, bertauhid (dengan
mengazankan), pendidikan jasmani (fisik yang kuat), kesehatan, dan kecerdasan.
DAFTAR
PUSTAKA
Amini, Ibrahim, Ta’lim wa Tarbiyat, terj. Ahmad Subandi dan
Salman Fadhlullah,Agar Tak Salah Mendidik, (Jakarta; Al-Huda) 2006
Al-Iman al-Bukhori al-Ja’fary, Sahih al-Bukhari, jilid ke-7,
(Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiah),1992 M
Muhaimin, Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, kajian
Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya,(Bandung;Trigenda karya),
1993.
Nasih Ulwan, Abdullah, Tarbiyatul Awlad Fi Al-Islam,( Mesir;
Darussalam),1994
Mahmud Yunus, At Tarbiyatu wa At Ta’lim (Gontor;Trimurti),
tt
Tauhid, Zainuri dkk (Ed), Pendidikan Anak Usia Dini Menurut
Pandangan Islam, (Jakarta; MUI),2005
Thalib,M, 50 Pedoman Mendidik Anak Menjadi Shalih,( Bandung;
Irsyad Baitus Salam),1998.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar