Senin, 19 Oktober 2015

Makalah Paud berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits

MAKALAH

PENDIDIKAN DAN MENDIDIK ANAK USIA DINI MENURUT AL-QUR’AN & AL-HADITS
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini
Dosen:
Eni Sustini, M.Pd.

 









Disusun oleh:
IHSANUDIN

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI - PUI)
MAJALENGKA
TAHUN PELAJARAN 2015 / 2016


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, pemberi petunjuk pada kebenaran dan jalan yang lurus. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam. Syukur Alhamdulillah kami masih diberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan dan menghadirkan makalah dengan tema “Pendidikan Dan Mendidik Anak Usia Dini Menurut Al-Qur’an & Al-Hadits”. Makalah ini di tulis untuk memenuhi tugas Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini yang dosennya adalah  Eni Sustini, M.Pd.
Makalah ini di makasudkan bukan hanya untuk memenuhi tugas Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, akan tetapi juga untuk siapa saja yang membacanya supaya mengerti tentang apa itu pendidikan dan bagaiman cara mendidik anak sejak dini menurut Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Dengan keterbatasan waktu dan juga ilmu yang kita miliki dan masih banyak materi yang seharusnya ada dalam makalah ini maka tentu banyak kekurangannya, karena ada suatu pepatah mengatakan “ Tiada gading yang tak retak “maka sangat kelompok kami harapkan keritik dan saran dari dosen kami yang tercinta Eni Sustini, M.Pd. untuk makalah kami ini supaya lebih baik lagi dalam menulis makalah ke depannya.
Kami memahami bahwa dalam makalah ini masih banyak ditemui kekurangan dan banyak hal yang harus diperbaiki. Maka dari itu, kami mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun agar dapat menjadi bahan evaluasi kami dalam menyusun makalah sehingga dikemudian hari dapat tercipta makalah yang lebih baik lagi. Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih.



                                                                                                            15 Oktober 2015 
                                                                                                                     penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .....................................................................................................  i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN 
A.      Latar Belakang .............................................................................................. iii
B.       Rumusan Masalah ......................................................................................... iv
C.       Tujuan Penulisan ...........................................................................................  iv
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian pendidikan ...........................................................  1
2.2 Pengertian Pendidikan menurut Al-Qur’an dan Al-Hadist ....  1
2.3 Peran orang tua dalam mendidik anak sejak dini ..................  5
1.             Memberi Tauhid yang mantaf ..............................................................  6
2.             Mendidik agar berbakti kepada kedua orang tua ................................  7
3.             Menanamkan rasa tanggung jawab ......................................................  7
4.             Membiasakan shalat Amal Ma’ruf dan Nahi Munkar ..........................  8
5.             Menanamkan kesabaran .......................................................................  9
6.             Menjauhkan sifat angkuh dan sombong ..............................................  9
7.             Memupuk kesederhanaan ....................................................................  10
8.             Menjaga kesehatan dan keamanan lingkungan ....................................  11
9.             Mendidik agar berakhlakul karimah ....................................................  11
10.         Mencintai Nabi, Keluarganya serta membacai Al-Qur’an ...................  11
BAB III PENUTUP 
A.      Kesimpulan .................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah hak warga negara, tidak terkecuali pendidikan di usia dini merupakan hak warga negara dalam mengembangkan potensinya sejak dini. Berdasarkan berbagai penelitian bahwa usia dini merupakan pondasi terbaik dalam mengembangkan kehidupannya di masa depan. Selain  itu pendidikan di usia dini dapat mengoptimalkan kemampuan dasar anak dalam menerima proses pendidikan di usia-usia berikutnya.
Dengan terbitnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), keberadaan pendidikan usia dini diakui secara sah. Hal itu terkandung dalam bagian tujuh, pasal 28 ayat 1-6, di mana pendidikan anak usia dini diarahkan pada pendidikan pra-sekolah yaitu anak usia 0-6 tahun. Dalam penjabaran pengertian, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisidiknas menyatakan bahwa:
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam. Allah ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)
            Salah satu tujuan diturunkannya agama Islam adalah memperbaiki akhlak manusia. Ahklak hanya dapat dperbaiki dengan proses pendidikan, baik formal maupun informal. Betapa pentingnya pendidikan sehingga ayat yang pertama diturunkan adalah perintah Allah kepada manusia untuk membaca, membaca semua penomena yang terjadi di alam dunia ini. Konsep


membaca hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan. Adapun tujuan pendidikan menurut Islam adalah agar seseorang dapat memahami tentang kekuasaan Allah SWT (yang tersirat dan tersurat) dengan segala peraturan-peraturannya. Allah serta mampu menempatkan posisinya sebagai hamba Allah SWT.
Mengkaji makna pendidikan anak menurut Islam (Al-qur’an dan Al-hadist) dengan seluruh aspeknya merupakan kewajiban setiap Muslim, mempelajari berbagai hal, baik ilmu aqidah, syariah maupun muamalah merupakan rangkuman pokok-pokok ajaran agama Islam yang sesuai dengan Al-qur’an dan Al-hadist Karena itu, penulis akan menggali khasanah ilmu pendidikan dalam pandangan Islam (Al-qur’an dan Al_hadist), baik pengertian, tujuan ataupun ruang lingkup pendidikan dan mendidik anak sejak dini menurut Al-qur’an dan Al-hadist.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang akan dipelajri dalam penyusunan makalah ini adalah:
1.        Apakah yang di makasud dengan pendidikan?
2.        Bagaimana pengertian pendidikan menurut Al-qur’an dan Al-hadist?
3.        Bagaimana peran orang tua terhadap pendidikan dan mendidik anak USIA dini?

C.  Tujuan Penulisan      
Tujuan penyusunan makalah yang yang bertema tentang pendidikan dan mendidik anak usia dini menurut Al-Qur’an dan Al-hadits adalah:
1.        Mengetahui makna dan pengertian pendidikan.
2.        Mengkaji pandangan pendidikan dan mendidik anak sejak dini menurut Al-qur’an dan Al-hadist.
3.        Mengetahui peran orang tua dalam mendidik anak USIA dini.




BAB II
Pembahasan

2.1 Pengertian pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Penjelasan tersebut nampak jelas, bahwa pendidikan adalah pembentuk kepribadian bangsa yang meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Kehandalan/kualitas pendidikan akan mempengaruhi kehidupan suatu bangsa dan masyarakat, baik sekarang maupun masa yang akan datang. Dengan demikian kemampuan bangsa dalam menghadapi masa depan sangat ditentukan oleh mekanisme dan sistem pendidikan yang dimiliki dan sedang berjalan.
Pendidikan merupakan hak setiap warga negara, namun masih ada beberapa  dari mereka yang belum mendapatkan hak tersebut. Hingga saat ini, peluang terbesar untuk memperoleh akses pendidikan yang baik hanya anak orang kaya dan pintar. Dengan bermodalkan kemampuan ekonomi yang lebih dari cukup, didukung dengan kemampuan berpikir tinggi, menjadi faktor pendukung untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik. Mereka berpeluang besar memasuki sekolah-sekolah elit, berkualitas, berstandar nasional, bahkan internasional. Hal ini menciptakan lingkungan belajar-mengajar yang kondusif, karena ditunjang dengan kualitas anak didik yang punya daya pikir tinggi.  Selain itu, tersedianya sarana prasarana yang lengkap membantu untuk mewujudkan pendidikan yang mapan.

2.2 Pengertian Pendidikan menurut Al-Qur’an dan Al-Hadist
Pendidikan dapat ditinjau dari dua segi. Pertama pendidikan dari sudut pandangan masyrakat dimana pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda yang bertujuan agar hidup masyarakat tetap berlanjut, atau dengan kata lain agar suatu masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang senantiasa tersalurkan dari generasi ke generasi dan senantiasa terpelihara dan tetap eksis dari zaman ke zaman. Kedua pendidikan dari sudut pandang individu dimana pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi dalam diri setipa individu sebab individu bagaikan lautan yang penuh dengan keindahan yang tidak tampak, itu dikarenakan terpendam di dasar laut yang paling dalam. Keindahan-keindahan yang terpendam tersebut perlu untuk ditampakkan kepermukaan laut sehingga dapat dirasakan keberadaannya. Dalam diri setiap manusia memiliki pelbagai bakat  dan kemampuan yang apabila dapat dipergunakan dengan baik, maka akan berubah menjadi intan dan permata yang keindahannya dapat dinikmati oleh banyak orang dengan kata lain bahwa setiap individu yang terdidik akan bermanfaat bagi manusia lainnya.
Dari kedua sudut pandang pendidikan di atas kemudian datanglah Islam yang secara komprehensif memadukan kedua sisi bentuk pendidikan yang berlandasakn al-Qur’an dan as-Sunnah, dimana Islam mendidik individu menjadi manusia yang beriman, berakhlak yang mulia dan beradab yang kemudian melahirkan masyarakat yang bermartabat, teori ini didasarkan pada firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Ayat di atas menunjukkan bahwa tidaklah sepantasnya seluruh individu orang-orang yang beriman (muslim) berangkat kemedan perang untuk memerangi kaum Kuffar dengan menggunakan senjata, akan tetapi hendaknya terdapat salah seorang diantar setiap golongan mencari pendidikan yang layak agar kembali kepada masyarakatnya dan mendidik mereka agar senantiasa menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari jilatan api Neraka.
Istilah pendidikan bisa ditemukan dalam al-Qur’an dengan istilah ‘at-Tarbiyah’, ‘at-Ta’lim’, dan ‘at-Tadhib’, tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata ‘rabbi’, kata at-Tarbiyah adalah bentuk masdar dari fi’il madhi rabba , yang mempunyai pengertian yang sama dengan kata ‘rabb’ yang berarti nama Allah. Dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata ‘at-Tarbiyah’, tetapi ada istilah yang senada dengan itu yaitu; ar-rabb, rabbayani, murabbi, rabbiyun, rabbani. Sebaiknya dalam hadis digunakan istilah rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda.
Beberapa ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kat-kata diatas. Sebagaimana dikutip dari Ahmad Tafsir bahwa pendidikan merupakan arti dari kata ‘Tarbiyah’ kata tersebut berasal dari tiga kata yaitu; rabba-yarbu yang bertambah, tumbuh, dan ‘rabbiya- yarbaa’ berarti menjadi besar, serta ‘rabba-yarubbu’ yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara.
Konferensi pendidikan yang pertama tahun 1977 ternyata tidak berhasil menyusun definisi pendidikan yang dapat disepakati, hal ini dikarenakan; 1) banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut sebagai kegiatan pendidikan, 2) luasnya aspek yang dikaji oleh pendidikan .
Para ahli memberikan definisi at-Tarbiyah, bila diidentikan dengan ‘arrab’ sebagai berikut;
1)      Menurut al-Qurtubi, bahwa; arti ‘ar-rabb adalah pemilik, tua, Maha memperbaiki, Yang Maha pengatur, Yang Maha mengubah, dan Yang Maha menunaikan
2)      Menurut louis al-Ma’luf, ar-rabb berarti tuan, pemilik, memperbaiki, perawatan, tambah dan mengumpulkan .
3)      Menurut Fahrur Razi, ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan al-Tarbiyah, yang mempunyai arti at-Tanwiyah (pertumbuhan dan perkembangan) .
4)      Al-Jauhari memberi arti at-Tarbiyah, rabban dan rabba dengan memberi makan, memelihara dan mengasuh.
5)      Kata dasar ar-rabb, yang mempunyai arti yang luas antara lain; memilki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan dan berarti pula mendidik.
Apabila pendidikan di identikan dengan at-ta’lim, para ahli memberikan pengertian sebagai berikut;
1). Abdul Fattah Jalal, mendefinisikan at-ta’lim sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau pembersihan manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya . At-ata’lim menyangkut aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidup serta pedoman prilaku yang baik. At-ta’lim merupakan proses yang terus menerus diusahakan semenjak dilahirkan, sebab menusia dilahirkan tidak mengetahui apa-apa, tetapi dia dibekali dengan berbagai potensi yang mempersiapkannya untuk meraih dan memahami ilmu pengetahuan serta memanfaatkanya dalam kehidupan.
2). Munurut Rasyid Ridho, at-ta’lim adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu . Definisi ini berpijak pada firman Allah al-Baqoroh ayat 31 tentang allama Allah kepada Nabi Adam as, sedangkan proses tranmisi dilakukan secara bertahap sebagaimana Adam menyaksikan dan menganalisis asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya. Dari penjelasan ini disimpulkan bahwa pengertian at-ta’lim lebih luas/lebih umum sifatnya daripada istilah at-tarbiyah yang khusus berlaku pada anak-anak. Hal ini karena at-ta’lim mencakup fase bayi, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, sedangkan at-tarbiyah, khusus pendidikan dan pengajaran fase bayi dan anak-anak.
3). Sayed Muhammad an Naquid al-Atas, mengartikan at-ta’lim disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar, namun bila at-ta’lim disinonimkan dengan at-tarbiyah, at-ta’lim mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah system .
Menurutnya ada hal yang membedakan antara at-tarbiyah dengan at-ta’lim, yaitu raung lingkup at-ta’lim lebih umum daripada at-tarbiyah, karena at-tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu pada kondisi eksistensial dan juga at-tarbiyah merupakan terjemahan dari bahasa latin education, yang keduanya mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik-mental, tetapi sumbernya bukan dari wahyu.
Pengunaan at-ta’dib, menurut Naquib al-Attas lebih cocok untuk digunakan dalam pendidikan Islam, konsep inilah yang diajarkan oleh Rasul. At-ta’dib berarti pengenalan, pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedimikian rupa, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud dan keberadaanya .
Kata ‘addaba’ yang juga berarti mendidik dan kata ‘ta’dib’ yang berarti pendidikan adalah diambil dari hadits Nabi “Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik” .
4). Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasy, pengertian at-ta’lim berbeda dengan pendapat diatas, beliau mengatakan bahwa; at-ta’lim lebih khusus dibandingkan dengan at-tarbiyah, karena at-ta’lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakuip keseluruhan aspek-aspek pendidikan .
Masih lagi pengertian pendidikan dari berbagai tokoh pemikir Islam, tetapi cukuplah pendapat diatas untuk mewakili pemahaman kita tentang konsep pendidikan Islam (al-Qur’an ). Konsep filosofis pendidikan Islam adalah bersumber dari hablum min Allah (hubungan dengan Allah) dan hablum min al-nas (hubungan dengan sesama manusia) dan hablum min al-alam (hubungan dengan manusia dengan alam sekitas) yang selanjutnya berkembang ke berbagai teori yang ada seperti sekarang ini. Inprirasi dasar yaitu berasal dari al-Qur’an.
Rasulullah Saw juga menegaskan bahwa setiap individu muslim baik pria maupun wanita berkewajiban mengenyam pendidikan yang layak dan baik, sebagaiman yang disabdakan oleh beliau Saw:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم                             
Dari Anas bin Malik beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: Menuntut ilmu adalah kewjiban bagi setiap individu muslim. (H.R Ibnu Majah)[3]
 Berdasarkan tinjauan di atas, maka penulis dalam makalah ini berusaha untuk mengupas secara tah}li>ly kandungan matan suatu hadis yang berhubungan dengan tujuan pendidikan yakni, Sabda Rasulullah Saw:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barang siapa yang meniti jalan untuk mencaari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.
2.3 Peran orang tua dalam mendidik anak sejak dini.
Pendidikan Anak dilakukan tidak hanya sejak anak memasuki masa kekanak-kanakan. Tapi sejak masa prenatal hingga seorang anakdewasa, orang tua masih terus memberikan pendidikan pada anaknya.
Dalam Islam, kita mengenal konsep pendidikan seumur hidup yang terangkum dalam kalimat “minal mahdi ilal lahdi”, dari buaian hingga liang kubur. Konsep long life education ini melibatkan banyak unsur pembentuk kepribadian manusia dari sejak dia terlahir hingga akhirnya meninggal dunia. Di antara unsur-unsur tersebut adalah: orangtua, keluarga, lingkungan, sekolah, dan teman. Jika dilihat dari beberapa unsur tersebut, kita bisa melihat dengan jelas, orangtua merupakan unsur terdekat yang akan sangat mempengaruhi kepribadian seorang anak.
Rasulullah Saw mengingatkan peran penting orangtua ini dengan sabdanya:
“Setiap anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya, hanya kedua orang tuanyalah yang akan membuat dirinya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR Bukhari ,Ibnu  Hibban DanBaihaqi)
Tentunya hadits ini tidak dipahami bahwa orangtua sebagai suatu unsur tunggal sebagai penentu masa depan anak. Tapi, harus disadari bahwa orangtua mempunyai peran yang sangat penting bagi masa depannya. Hal ini juga disinggung dalam sebuah peribahasa “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya”. Keterlibatan peran orangtua bisa bersifat genetik dan non-genetik. Secara genetik, beberapa sifat yang dipunyai anak cenderung diperoleh dari sifat-sifat orangtuanya. Tapi, secara non genetik beberapa perilaku anak dipengaruhi oleh sikap orangtua.
Bimbingan, perhatian dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis anak serta niali-nilai social dan religius pada diri anak didik.
Di sinilah orangtua menjadi unsur yang sangat penting bagi pendidikan anak. Sampai pada titik ini, kita diingatkan untuk memperhatikan dua hal penting: pertama, pendidikan sebagai suatu proses seumur hidup, dan kedua, peran sentral orangtua dalam Membentuk Kepribadian anak dengan Cara:
1.    Membekali Tauhid Yang Mantap.
Tauhid merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam pendidikan anak. Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang ahli hikmah yang bernama Luqman. Allah Swt mengabadikan nasehat Luqman kepada anaknya dalam al quran, sebagaimana berikut:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Yang paling pertama yang kita lakukan adalah memperkenalkan sang anak dengan Rabbnya, karena dengan tauhid atau iman yang mantap akan menggiring sang anak pada kesempurnaan  lahir dan batin. Apabila iman seseorang telah sempurna maka akan memiliki akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Rasulullah:
أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنهمْ خُلُقًا ” (رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ(
“Mukmin yang sempurna imannya, bagus akhlaknya” (HR. Tirmidzi).
            Pada awal pembinaan para sahabatnya, Rasulullah Saw lebih memprioritaskan pembinaan iman, begitupun yang dilakukan Luqman terhadap anaknya, maka seyogyanya setiap orangtua pada zaman sekarang juga harus memanamkan keimanan yang kuat kepada putra putrinya, karena iman itulah yang akan menjadi tamengnya dimanapun dia berada dan dalam kondisi apapun.

2.    Medidik Agar Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.
            Nasihat kepada anak untuk berbakti kepada orang tua sering diulang di dalam al-Qur’an al-Karim dan pesan-pesan Rasulullah saw. Sedangkan nasihat kepada orangtua untuk berbuat baik kepada anak itu sangat sedikit. Yang demikian dikarenakan fitrah orangtua mengayomi dan menyayangi anaknya.
Inilah gambaran inspiratif dari luqman yang menasehati anaknya agar berbakti kepada orang tuanya. Sebagaimana tertuang dalam Al qur’an:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun ,. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.  (Q.S: Luqman:14)
Ayat ini memberi Gambaran tentang pengorbanan Sang ibu yang luar biasa, ketika mengandung hingga menyusui sang buah hati dengan kasih sayang lebih besar, lebih dalam, lebih hangat, dan lebih lembut.    
            Seorang anak tidak mampu mengganti apa yang telah dikorbankan orangtua, meskipun ia memberikan seluruh usianya untuk keduanya. Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar dalam Musnad-nya meriwayatkan,bahwa ada seorang laki-laki thawaf sambil menggendong ibunya. Lalu IA bertanya kepada Nabi saw: “Apakah laki-laki itu telah membayar hak ibunya?” Beliau menjawab “Tidak” , meskipun untuk satu keluhan nafas yang panjang.” Demikianlah, meskipun begitu berat pengorbanan kita namun kita tidak dapat membayar pengorbanan Sang ibu walau untuk satu keluhan nafas yang panjang, baik saat kehamilan atau dalam persalinan.
  1. Menanamkan rasa tanggung Jawab.
            Pendidikan anak yang ditanamkan Luqman kepada anaknya adalah rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, karena seluruh perbuatan manusia Akan dipertangung jawabakan di akhirat, amal baik akan di balas dengan kebaikan dan amal buruk akan dibalas dengan keburukan. Seperti dalam firman Allah SWT:
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Q.S: Luqman: 16)
            Dengan menanamkan rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, hal ini akan berpengaruh positif dalam kehidupan sang anak, karena dengan demikian sang anak dapat mengontrol dan mengendalikan diri dalam berbuat.  
  1. Membiasakan Shalat dan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.
            Setelah kita memperkenalkan sang anak dengan Rabbnya, kita ajari bagaimana dia berkomunikasi dengan Rabbnya, yaitu mendirikan shalat Lima waktu. Kemudian kita juga tidak luput mendidiknya dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, Allah SWT berfirman:
 يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ 
“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (Q.S: Luqman:17)
           Mengenai shalat Nabi Muhammad Saw juga menekankan di dalam sebuah hadits:
مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءَ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak mengerjakannya), Ketika berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidut mereka” (HR. Abu Daud).
            Pada hadits ini Rasulullah Saw memakai ungkapan idhribuu yang arti dasarnya adalah pukullah secara fisik jika anak melalaikan shalat. Namun makna lain yang lebih kontekstual adalah ‘didiklah’. Dengan demikian bentuk mendidik sangat luas, misalnya memberi teladan, membiasakannya, serta memberi motivasi untuk sahalat.
            Dalam ayat diatas, Luqman juga menasehati anaknya untuk amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kebaikan merupakan sesuatu yang diketahui oleh setiap orang, maka kebaikan itu disebut dengan ma’ruf yang artinya dikenal, begitupun kebathilan, manusia pada dasarnya Akan selalu mengingkari segala bentuk kebathilan, maka dari itu bathil disebut dengan munkar. Namun kadangkala manusia didominasi oleh hawa nafsunya sehingga melaksanakan kebathilan dan meninggalkan kebaikan. Adapun dampak positif dalam diri anak, minimal ketika dia memerintahkan kebaikan pada orang lain, maka sang anak memiliki beban mental akan keharusan melakukan kebaikan itu. Begitu pula dengan nahi munkar, paling tidak dia membenci pada kemunkaran sehingga dia tidak Akan melakukannya.  
  1. Menanamkan Kesabaran.
            Sudah sepantasnya kita sebagai orang tua mengajarkan kesabaran kepada anak, karena hidup ini penuh dengan lika liku. Oleh karena itu sangat tepat apa yang dinasihatkan Luqman kepada anaknya agar bersabar terhadap hal-hal yang menimpa dirinya sebagai konsekuensi dari keimanan dan pembuktiannya, khususnya dalam hal amar ma’ruf dan nahi munkar. Nasihat ini memang sangat penting agar seorang anak tidak mudah putus asa dalam menjalani hidup yang penuh dengan cobaan lalu menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkan.
            Manakala seseorang memiliki kesabaran dalam hidupnya, maka Allah akan selalu bersamanya, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ     
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al Baqarah:153).
Disamping itu, sabar juga menjadi salah satu kunci utama dalam mencapai keberhasilan, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS Ali Imran:200).

  1. Menjauhkan Sifat Angkuh Dan Sombong
            Sifat ini telah mencelakakan banyak makhluk ciptaan Allah SWT, mulai dari peristiwa terusirnya Iblis dari surga hingga ditenggelamkannya qarun kedalam bumi, serta banyak lagi kisah-kisah para ummat sebelum kita yang diadzab karena kesombongannya.
            Dengan demikian Luqman menasehati anaknya agar menjahui sifat angkuh dan sombong, seperti dalam firman Allah SWT:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S: Luqman:18)
            Ibnu Katsir rahimahullah menafsiri kalimat :”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu”.
  1. Memupuk Kesederhanaan
Sederhana yang dimaksud disini adalah tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu, ketika berjalan, berjalanlah dengan sopan, begitupun dalam berbicara. Kesederhanaan menggambarkan sebuah ketenangan dan kesopanan tingkah laku yang merupakan buah dari budi pekerti mulia.
Di antara wasiat Luqman yang dikisahkan oleh Allah ‘azza WA jalla dalam Surat Luqman, tatkala dia berkata kepada anaknya:
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (Q.S: Luqman: 19)
Makna “dan lunakkanlah suaramu” adalah jangan berlebihan dalam berbicara dan jangan mengangkat suaramu dengan perkataan yang tidak ada faidahnya, karena seburuk-buruk suara ialah suara keledai. Al-Imam Mujahid dan yang lainnya mengatakan ‘Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai, yakni yang paling buruk dari mengangkat suara adalah yang kerasnya menyerupai suara keledai.
Mengapa hidup sederhana demikian penting? Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari sifat dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?

  1. Menjaga kesehatan dan keamanan lingkungan.
Rasulullah memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya berenang, memanah dan menunggang kuda. hal ini akan berdampak pada kesehatan sang anak. Baginda Rasulullah SAW sangat memperhatikan kesehatan dan keamanan, sebab kesehatan dan keamanan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Hal ini dapat kita renungkan, bagaimana jika kita ditimpa penyakit dan keadaan lingkungan tidak aman. Lingkungan yang tidak aman akan menimbulkan rasa takut, khawatir dan was-was. Perintah ini menunjukkan agar setiap orang Islam hidup sehat dan senantiasa menjaga keamanan lingkungan, dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda:
علموا أولادكم السباحة والرماية وركوب الخيل
“Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah dan menunggang kuda”. (H.R bukhari/muslim) 
  1. Mendidik Agar Berakhlakul karimah
Pendidikan akhlak dimulai sejak ibu mengandung, yaitu berakhlak yang baik kepada setiap orang. Perilaku ibu yang tengah mengandung ini dapat memberikan pembelajaran awal kepada jabang bayi untuk berakhlak mulia.
Sejak kecil anak harus diajarkan, dibiasakan, dan dikondisikan melakukan perbuatan yang baik. Jika seorang anak terbiasa melakukan perilaku yang buruk hingga ia besar, maka akan sukar meluruskannya. Artinya, penanaman akhlak kepada anak dimulai sedini mungkin dan seyogianya dilakukan oleh setiap orang tua. Jangan biarkan anak tanpa pendidikan akhlak dan moral. Mari kita simak hadits Rasulullah berikut:
أكرموا أولادكم وأحسنوا آدبهم (رواه ابن ماجة(
“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka”(HR Ibnu Majah)
  1. Mencintai Nabi, Keluarganya Serta Mengajari Membaca Al Quran
            Ada tiga perkara yang ditekankan Nabi Muhammad SAW dalam mendidik putra-putri kita, sebagaimana sabda Beliau:
أدبوا أولادكم على ثلاث خصال: حب نبيكم، وحب أهل بيته، وقراءة القرآن
 “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara; Mencintai Nabi kalian(Muhammad SAW), mencintai Ahlulbaitnya dan membaca Al-Qur’an”.
Teladani Nabi Muhammad SAW: Memberikan teladan adalah metode paling jitu dalam pendidikan anak. Karenanya memperkenalkan pribadi Nabi Muhammad saw sejak dini akan menjadi pondasi kuat dalam pembangunan akhlaq pada putra putri. Jadikanlah sosok Nabi itu hidup dalam benak mereka dan sangat mereka cintai. Tak ada pribadi yang lebih indah budi pekertinya daripada Nabi Muhammad.
Teladani Keluarga Nabi: Keluarga Nabi adalah istri dan anak-anak beliau dan juga menantu beliau yang shalih. Tidak diragukan merekalah orang-orang terdekat dengan Nabi, Mereka pulalah orang-orang yang paling mencintai Nabi dan berusaha melanjutkan perjuangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam. Kisah tentang mereka pun akan menjadi inspirasi sangat berharga bagi anak-anak kita dalam meneladani Nabi.
Membaca Quran: Al quran merupakan pedoman hidup bagi setiap insan, membaca dan mempelajarinya merupakan suatu ibadah kepada Allah s.w.t. Selain daripada itu, Al-Quran juga mempunyai rahasia dan hikmah yang tinggi. rahasianya perlu digali, pintu hikmahnya perlu dipelajari supaya perjalanan hidup kita sentiasa dalam keridhaan Allah SWT. Lebih-lebih lagi kita wajib mempercayai kitab Al-Quran yang mana kitab ini merupakan pelengkap dan penyempurna rukun Iman seorang Muslim.














BAB III
KESIMPULAN
Jadi dalam pendidikan dan mendidik anak sejak dini (USIA dini) memang harus sesuai dengan apa yang ada di dalam Al-qur’an dan Al-hadist sehingga anak menjadi anak yang taat pada Allah dan rasulnya begitu juga mereka taat kepada orang tua dan keluarganya.
Ada beberapa pendidikan yang harus diberikan kepada anak sejak lahir sampai berusia tujuh hari yakni; bersyukur, bertauhid (dengan mengazankan), pendidikan jasmani (fisik yang kuat), kesehatan, dan kecerdasan.


DAFTAR PUSTAKA

Amini, Ibrahim, Ta’lim wa Tarbiyat, terj. Ahmad Subandi dan Salman Fadhlullah,Agar Tak Salah Mendidik, (Jakarta; Al-Huda) 2006 
Al-Iman al-Bukhori al-Ja’fary, Sahih al-Bukhari, jilid ke-7, (Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiah),1992 M 
Muhaimin, Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya,(Bandung;Trigenda karya), 1993.
Nasih Ulwan, Abdullah, Tarbiyatul Awlad Fi Al-Islam,( Mesir; Darussalam),1994 
Mahmud Yunus, At Tarbiyatu wa At Ta’lim (Gontor;Trimurti), tt
Tauhid, Zainuri dkk (Ed), Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Pandangan Islam, (Jakarta; MUI),2005

Thalib,M, 50 Pedoman Mendidik Anak Menjadi Shalih,( Bandung; Irsyad Baitus Salam),1998.

Tidak ada komentar: